Reformasi Regulasi dan Infrastruktur Jadi Kunci Lonjakan Investasi Batam

Selasa, 23 Juni 2026 | 09:33:29 WIB
Reformasi Regulasi dan Infrastruktur Jadi Kunci Lonjakan Investasi Batam

GLOBALKEPRI.COM, BATAM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan investasi yang semakin ketat, Kota Batam kembali membuktikan diri sebagai salah satu destinasi investasi paling menjanjikan di Indonesia. Berbagai langkah reformasi regulasi, percepatan layanan perizinan, serta pembangunan infrastruktur yang masif berhasil mendorong lonjakan investasi yang signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.

Berdasarkan data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), realisasi investasi Batam pada tahun 2025 mencapai Rp44,01 triliun atau tumbuh 72,83 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp25,46 triliun. Angka tersebut juga melampaui target investasi tahun 2025 yang ditetapkan sebesar Rp36,9 triliun.

Tak hanya itu, melalui metode perhitungan investasi yang dikembangkan BP Batam dengan pendekatan bottom-up, nilai investasi yang terealisasi bahkan mencapai Rp69,30 triliun atau 115,5 persen dari target investasi BP Batam sebesar Rp60 triliun.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti nyata semakin tingginya kepercayaan investor terhadap Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, dan investasi unggulan nasional.

“Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Batam justru mampu mencatat pertumbuhan investasi yang sangat baik. Ini menunjukkan bahwa iklim investasi di Batam terus membaik dan semakin kompetitif,” ujar Amsakar, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil dari berbagai pembenahan yang dilakukan secara konsisten oleh BP Batam, mulai dari penyederhanaan proses perizinan, reformasi regulasi, hingga percepatan pembangunan infrastruktur penunjang investasi.

Amsakar menegaskan bahwa pertumbuhan investasi merupakan indikator paling objektif dalam mengukur daya tarik suatu daerah bagi dunia usaha.

“Ketika investor terus datang dan menanamkan modalnya, itu menandakan mereka melihat prospek yang baik serta peluang usaha yang menjanjikan di Batam,” katanya.

Pertumbuhan paling mencolok terjadi pada sektor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sepanjang tahun 2025, nilai PMDN mencapai Rp18,43 triliun atau melonjak 125,86 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp8,16 triliun.

Sementara itu, investasi Penanaman Modal Asing (PMA) juga menunjukkan tren positif dengan nilai mencapai Rp25,58 triliun atau tumbuh 47,81 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp17,30 triliun. Singapura masih menjadi investor terbesar, disusul sejumlah negara mitra strategis lainnya.

Tren positif tersebut berlanjut pada Triwulan I Tahun 2026. Realisasi investasi Batam mencapai Rp17,4 triliun atau meningkat 102,85 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Nilai tersebut terdiri dari PMA sebesar Rp8,8 triliun yang tumbuh 50,71 persen dan PMDN sebesar Rp8,5 triliun yang melonjak hingga 216,18 persen secara tahunan.

Lima negara penyumbang investasi terbesar selama Triwulan I 2026 berasal dari Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. Keberagaman asal investasi ini menunjukkan bahwa Batam memiliki basis investor yang semakin luas dan kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Dari sisi sektor usaha, investasi yang masuk juga dinilai semakin berkualitas. Industri mesin dan elektronik menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 23,65 persen, diikuti sektor kimia dan farmasi sebesar 21,18 persen, jasa lainnya 17,70 persen, serta kawasan industri dan properti sebesar 13,09 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi Batam tidak hanya bertumpu pada sektor properti, tetapi juga ditopang sektor manufaktur, teknologi, dan industri bernilai tambah tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan daya saing ekonomi daerah.

Untuk menjaga tren pertumbuhan tersebut, BP Batam terus melakukan berbagai langkah strategis, termasuk perluasan wilayah Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2025.

Melalui kebijakan tersebut, cakupan wilayah KPBPB Batam bertambah dari delapan pulau menjadi 22 pulau, dengan luas kawasan meningkat dari sekitar 71.500 hektare menjadi 152.686,44 hektare.

Perluasan kawasan ini diyakini membuka ruang investasi baru yang lebih luas untuk mendukung pengembangan sektor industri, logistik, pariwisata, energi, hingga ekonomi masa depan.

Di saat yang sama, BP Batam juga mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur strategis seperti jalan dan jembatan, sistem drainase, pelabuhan, bandara, jaringan distribusi air minum, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), pengelolaan limbah B3, serta fasilitas kesehatan dan pelayanan publik lainnya.

“Investasi dan pembangunan infrastruktur adalah dua hal yang saling mendukung. Kami ingin memastikan investor memperoleh kepastian usaha, dukungan infrastruktur yang memadai, serta pelayanan yang cepat dan profesional. Dengan begitu, investasi yang masuk tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Amsakar.

Dengan capaian investasi yang terus meningkat serta dukungan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, Batam semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional dan pusat investasi strategis di kawasan barat Indonesia.

Terkini