GLOBALKEPRI.COM, BATAM – SMP Negeri 38 Batam berdiri di sudut sempit Kecamatan Tanjung Uncang, Kota Batam. Lahan sekolah terbatas, bangunan sederhana, dan tak memiliki perpustakaan. Namun dari ruang yang serba terbatas itulah, tumbuh sebuah gerakan literasi yang hidup dan berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Kepala SMPN 38 Batam, Alfida Hasan, S.Pd, sekolah ini menjadikan membaca, menulis, dan berbicara sebagai bagian dari keseharian siswa. Literasi tidak hadir sebagai program sesaat, melainkan budaya yang dirawat perlahan dengan kesabaran.
“Literasi bukan soal fasilitas, tetapi soal kebiasaan,” kata Alfida saat menerima kunjungan PWI Batam Seksi Pendidikan, Selasa (20/1/2026).
Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, siswa bergiliran membacakan karya mereka di hadapan teman-teman. Ada puisi, cerita pendek, jurnal harian, hingga tulisan reflektif. Aktivitas sederhana ini menjadi ruang belajar keberanian dan kepercayaan diri, tempat suara anak-anak dihargai.
Keterlibatan guru juga menjadi bagian penting. Di SMPN 38 Batam, guru dan siswa sama-sama belajar. Pidato berbahasa Inggris dilakukan bergiliran, menumbuhkan keberanian berbicara di depan umum tanpa rasa takut.
Sebagai pengajar bahasa Inggris, Alfida memadukan literasi modern dengan akar budaya Melayu. Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji menjadi bagian dari proses pembelajaran. Bait-baitnya terpajang di dinding kelas, mengingatkan bahwa nilai dan kata-kata telah lama menjadi fondasi peradaban.
Pada akhir Januari 2026, SMPN 38 Batam akan menggelar lomba membaca Gurindam Dua Belas dan Langgam Melayu sebagai bagian dari Festival Anak Tanjung Uncang Tiga Lapan.
“Pelatihan jurnalistik, literasi, dan lomba gurindam adalah upaya kami menanamkan kecintaan pada kata sejak dini,” ujar Alfida.
Tanpa perpustakaan, sekolah ini menghadirkan pojok baca di halaman sekolah. Buku-buku disusun sederhana di ruang terbuka, menemani waktu istirahat siswa. Di sana, membaca menjadi aktivitas yang menyatu dengan keseharian, tanpa sekat ruang.
Pada hari yang sama, 50 siswa mengikuti pelatihan jurnalistik dan literasi yang digelar PWI Batam di Laboratorium Komputer sekolah. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam yang diwakili Kabid Pembinaan SMP, Joni Satria Putra, bersama pengawas sekolah.
“Literasi adalah dasar berpikir kritis dan berkarakter. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut,” ujar Joni.
Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Anshary, menegaskan bahwa jurnalistik dan literasi bukan hanya soal menulis berita, tetapi tentang membangun kepekaan terhadap fakta dan tanggung jawab atas setiap kata.
“Di era banjir informasi, kemampuan membaca kritis dan menulis secara etis menjadi bekal penting bagi generasi muda,” katanya.
SMPN 38 Batam juga memiliki pers sekolah aktif dengan sekitar 160 siswa terlibat. Melalui mading dan kegiatan jurnalistik, siswa belajar menyampaikan gagasan dan melihat dunia dengan lebih peka.
Di sekolah kecil yang jauh dari pusat kota itu, literasi tumbuh tanpa banyak sorotan. Tidak megah, tidak gaduh. Hanya kebiasaan yang dijaga setiap hari. Dari halaman sempit Tanjung Uncang, kata-kata dirawat—dan masa depan perlahan disusun. (JKF)