GLOBALKEPRI.COM, JAKARTA – Langkah-langkah wisatawan bergema di atas batu-batu tua di kawasan Kota Tua Jakarta. Di tengah terik matahari siang, pelataran luas di depan Museum Fatahillah dipenuhi pengunjung dari berbagai penjuru.

Sebagian wisatawan tampak bersepeda ontel warna-warni, sementara lainnya sibuk berburu foto di antara bangunan tua bergaya kolonial yang telah berdiri sejak ratusan tahun lalu.
Di antara keramaian tersebut, rombongan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kepulauan Riau terlihat berjalan santai menyusuri sudut-sudut sejarah Batavia lama.
Kunjungan ini dilakukan di sela rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten yang berlangsung pada 9 Februari 2026 lalu.

Rombongan dipimpin Ketua SMSI Kepri Rinaldi Samjaya, didampingi Wakil Ketua Anwar Saleh Harahap, Sekretaris Zabur Anjasfianto, Bendahara Allib Murniman, serta pengurus Sarah Melina dan Nov Iwandra.
Turut bergabung Ketua SMSI Batam Indra Helmi bersama pengurus SMSI Batam yakni Sandra Satria Bud, Fajri, dan Deka Hartati.
Menyentuh Langsung Jejak Sejarah Batavia
Bagi para pengurus organisasi perusahaan media siber tersebut, perjalanan ke Kota Tua bukan sekadar wisata, tetapi juga kesempatan untuk menyentuh langsung jejak sejarah yang membentuk wajah Jakarta hari ini.

Museum Fatahillah menjadi salah satu tujuan utama. Bangunan megah yang didirikan pada tahun 1707 ini dulunya merupakan Balai Kota Batavia, pusat pemerintahan Hindia Belanda pada masa kolonial.
Kini, museum tersebut menyimpan beragam koleksi sejarah Jakarta, mulai dari peta kuno Batavia, artefak kolonial, hingga lukisan kehidupan masyarakat tempo dulu.
Rombongan SMSI Kepri menyusuri setiap ruangan museum hingga tiba di bagian bawah bangunan, yakni ruang penjara kolonial Belanda.
Ruangan itu sempit, berdinding tebal, dan terasa lembap. Dahulu tempat ini digunakan untuk menahan para tahanan pada masa penjajahan.
“Melihat langsung tempat seperti ini memberi perspektif berbeda. Kita tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga merasakan atmosfernya,” ujar Rinaldi Samjaya.
Pentingnya Sejarah bagi Insan Pers
Menurut Rinaldi, memahami sejarah merupakan hal penting bagi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Seorang wartawan tidak hanya menulis peristiwa hari ini, tetapi juga perlu memahami perjalanan masa lalu. Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan memiliki konteks dan perspektif yang lebih luas,” katanya.
Kota Tua, Destinasi Wisata Sejarah Favorit
Di luar museum, suasana terasa lebih hidup. Puluhan sepeda ontel berjejer rapi di pelataran, siap disewa wisatawan lengkap dengan topi lebar bergaya kolonial.
Di sudut lain, seorang perempuan berkostum Noni Belanda menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin berfoto. Tak jauh dari sana, seniman jalanan dengan kostum manusia emas berdiri diam layaknya patung hidup, sesekali bergerak saat menerima tip dari wisatawan.
Kehadiran cosplayer bertema pahlawan nasional hingga tokoh kolonial semakin menambah semarak suasana. Anak-anak tampak riang bermain di sekitar meriam peninggalan masa kolonial, sementara orang tua mengabadikan momen dengan kamera ponsel.
Kawasan Kota Tua Jakarta memang telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di ibu kota. Area seluas sekitar 1,3 kilometer persegi ini merupakan pusat pemerintahan Batavia pada abad ke-17 hingga ke-19.
Kini, puluhan bangunan berarsitektur kolonial masih berdiri kokoh dan difungsikan sebagai museum, galeri seni, hingga ruang publik.
Kota Tua, Ruang Belajar Sejarah
Bagi Rinaldi, kawasan seperti Kota Tua memiliki nilai penting, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga generasi muda dan insan pers.
“Kota Tua bukan hanya tempat wisata, tetapi ruang belajar sejarah. Kita bisa melihat bagaimana perjalanan bangsa ini terbentuk dari masa ke masa,” ujarnya.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta modern yang terus berkembang, Kota Tua tetap berdiri sebagai saksi perjalanan panjang kota ini, dari Batavia hingga menjadi ibu kota Indonesia.
Dan di pelataran luas depan Museum Fatahillah, langkah para pengunjung terus berdatangan—seolah menegaskan bahwa cerita lama Batavia tidak pernah benar-benar usang, melainkan selalu menemukan cara untuk diceritakan kembali. (*)