SMSI-RRI Perkuat Sinergi, Firdaus: Jurnalis Kompeten Jadi Benteng Informasi di Era Digital

Ahad, 23 Agustus 2026 | 08:13:37 WIB
SMSI-RRI Perkuat Sinergi, Firdaus: Jurnalis Kompeten Jadi Benteng Informasi di Era Digital

GLOBALKEPRI.COM, JAKARTA – Arus informasi yang semakin deras di era digital menuntut insan pers untuk terus meningkatkan kemampuan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Jurnalis kini dituntut mampu bekerja lintas platform, sekaligus tetap menjaga akurasi, etika dan independensi dalam setiap pemberitaan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, M.Si., dalam Diskusi Panel Pengembangan Kompetensi Jurnalistik LPP RRI yang berlangsung pada 21 Agustus 2026.

Dalam forum tersebut, Firdaus menyoroti pentingnya membangun kolaborasi antara Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) dengan media siber nasional sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan informasi di ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh membuat kualitas jurnalistik tergerus. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kerja jurnalistik dan memperluas jangkauan informasi yang berkualitas.

“Kolaborasi RRI dan SMSI menjadi kunci penjaga kebenaran atau truth enforcer nasional,” ujar Firdaus.

Tantangan Jurnalisme Semakin Kompleks

Firdaus menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi membuat profesi wartawan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Jurnalis tidak lagi cukup hanya memiliki kemampuan menulis. Mereka juga perlu memahami fotografi, audio, video, pengolahan data hingga produksi konten menggunakan perangkat mobile.

Selain kemampuan teknis, aspek verifikasi juga menjadi perhatian utama. Wartawan harus mampu memilah informasi yang beredar di media sosial, memeriksa sumber, menguji data dan memastikan fakta sebelum disampaikan kepada masyarakat.

“Di tengah banjir informasi, wartawan harus menjadi pihak yang mampu menyaring informasi, bukan justru ikut mempercepat penyebaran informasi yang belum terverifikasi,” jelasnya.

Ia menyebut setidaknya ada sejumlah kompetensi yang harus menjadi perhatian dalam pengembangan kapasitas wartawan.

Pertama, penguatan etika jurnalistik dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Kompetensi wartawan menjadi salah satu fondasi untuk menjaga profesionalisme, independensi dan integritas pers.

Kedua, Mobile Journalism (MoJo), yakni kemampuan melakukan peliputan menggunakan perangkat mobile. Kemampuan tersebut mencakup pengambilan gambar, perekaman suara hingga produksi video berita.

Ketiga, fact-checking atau pemeriksaan fakta. Kemampuan ini semakin penting karena ruang digital memungkinkan informasi palsu dan manipulatif menyebar dengan sangat cepat.

Keempat, digital analytics dan GEO yang berkaitan dengan kemampuan memahami perilaku audiens serta mengoptimalkan penyebaran informasi di berbagai platform digital.

Kekuatan RRI dan SMSI Saling Melengkapi

Firdaus menilai RRI dan SMSI memiliki kekuatan yang dapat dipadukan untuk memperkuat ekosistem informasi nasional.

RRI memiliki jaringan penyiaran publik yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah perbatasan. Sementara SMSI memiliki jaringan perusahaan media siber yang tersebar di berbagai daerah.

Kolaborasi kedua ekosistem tersebut dinilai dapat membuka ruang pertukaran informasi yang lebih luas sekaligus memperkuat pemberitaan dari daerah.

“RRI memiliki kekuatan sebagai lembaga penyiaran publik, sementara SMSI memiliki jaringan media siber di berbagai daerah. Kalau kekuatan ini disinergikan, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat,” katanya.

Menurut Firdaus, informasi mengenai pembangunan, potensi daerah dan aspirasi masyarakat tidak boleh berhenti di tingkat lokal. Melalui jaringan media yang kuat, informasi tersebut dapat diangkat ke ruang publik nasional.

Dorong Penguatan Kompetensi Wartawan

Salah satu bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan adalah penguatan kompetensi wartawan melalui pelaksanaan UKW.

SMSI dan RRI dapat membangun program bersama, termasuk pelaksanaan UKW bagi wartawan media anggota SMSI serta mencetak calon penguji melalui program Training of Trainer atau ToT.

Materi kompetensi wartawan juga dinilai perlu terus diperbarui agar mampu menjawab perkembangan teknologi dan kebutuhan industri media.

Tidak hanya wartawan, penguatan juga perlu dilakukan pada sisi newsroom. Kolaborasi newsroom antara RRI dan media siber dinilai dapat memperkuat pertukaran informasi serta memperluas distribusi berita berkualitas.

Jaga Ruang Publik dari Disinformasi

Firdaus menegaskan, pers memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat.

Di tengah dominasi media sosial, kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi. Setiap informasi yang disampaikan kepada publik harus melalui proses jurnalistik yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang kompeten dan perusahaan media yang sehat. Kolaborasi LPP RRI dan SMSI adalah kunci utama menjaga kedaulatan informasi serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.

Ia berharap sinergi RRI dan SMSI dapat diwujudkan dalam program yang berkelanjutan, tidak hanya dalam peningkatan kompetensi wartawan, tetapi juga dalam memperkuat jaringan newsroom dan distribusi informasi publik.

Dengan kolaborasi tersebut, media diharapkan mampu menjadi benteng yang menjaga masyarakat dari disinformasi sekaligus memastikan informasi yang hadir di ruang publik tetap akurat, berimbang dan terpercaya.

Tags

Terkini