TRANSKEPRI.COM, BATAM — SMKN 7 Batam mulai menunjukkan arah baru pendidikan vokasi yang tidak hanya mengejar kelulusan, tetapi membangun kompetensi siswa agar benar-benar siap menghadapi dunia kerja.
Melalui penerapan Uji Unit Kompetensi (UUK) secara bertahap, sekolah yang berada di Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, tersebut berupaya menghadirkan pola pembelajaran yang semakin dekat dengan standar profesional di dunia industri.

Model pendidikan inilah yang kemudian mendapat apresiasi dari Ikatan Sekretaris Administratif Profesional Indonesia (ISI-AP) DPD Provinsi Kepulauan Riau.
Praktisi sekaligus asesor ISI-AP menilai SMKN 7 Batam memiliki potensi menjadi role model bagi sekolah menengah kejuruan lainnya, tidak hanya di Batam, tetapi juga di Kepulauan Riau dan daerah lainnya.

“Semoga SMKN 7 Batam bisa menjadi role model bagi SMK-SMK lain, baik di Batam, Kepri maupun di daerah lainnya,” ujar Ketua Umum DPD ISI-AP Provinsi Kepri, Asmaniar Susanti, S.M.
Menurutnya, kekuatan SMKN 7 Batam bukan semata-mata terlihat dari hasil ujian, tetapi dari upaya sekolah membangun sistem kompetensi yang terencana, bertahap dan melibatkan praktisi dari dunia kerja.
UUK yang digelar pada 28-30 September 2026 di Aula SMKN 7 Batam menjadi salah satu gambaran penerapan pola tersebut.
Sebanyak 135 siswa kelas XI Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) mengikuti asesmen. Mereka terdiri dari 42 siswa XI MP 1, 40 siswa XI MP 2 dan 53 siswa XI MP 3.
Hasilnya, seluruh peserta dinyatakan lulus tanpa remedial.
Tiga siswa dengan hasil asesmen terbaik juga mendapatkan reward sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi siswa lainnya.
Namun, bagi SMKN 7 Batam, angka kelulusan tersebut bukanlah tujuan akhir.
Membangun Kompetensi Sejak Bangku Sekolah

Program UUK digagas Kepala Program Keahlian MPLB SMKN 7 Batam, Enjang Suhaedin, S.Pd., Gr., M.M.
Program tersebut disusun berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan.
Dari lima kelompok Uji Kompetensi Keahlian, SMKN 7 Batam mengembangkannya menjadi 23 unit kompetensi yang dilaksanakan secara bertahap sejak kelas XI hingga kelas XII.
Kelima kelompok tersebut meliputi Administrasi dan Dokumen, Administrasi Eksekutif dan Komunikasi, Pelayanan dan Administrasi Operasional, Administrasi Digital, Arsip, K3 dan Keamanan Kerja, serta Bahasa Inggris.
Pelaksanaan kompetensi juga disusun dengan jadwal bertahap hingga 2027.
Pola ini membuat siswa tidak hanya menerima teori di dalam kelas. Mereka juga diarahkan untuk membuktikan kemampuan melalui praktik dan asesmen yang mengacu pada kebutuhan pekerjaan nyata.

“Harapannya setelah lulus, mereka memiliki keahlian, kemampuan dan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja,” ujar Enjang.
Sekolah dan Praktisi Bersatu Menyiapkan Lulusan
Untuk memastikan kompetensi siswa tidak hanya dinilai dari perspektif sekolah, SMKN 7 Batam menggandeng ISI-AP DPD Provinsi Kepri sebagai mitra praktisi dan asesor.
Kerja sama tersebut dituangkan melalui Nota Kesepahaman yang ditandatangani Kepala SMKN 7 Batam Nursya'bani, M.Pd. bersama Ketua Umum DPD ISI-AP Provinsi Kepri Asmaniar Susanti, S.M.
MoU tersebut berlaku selama empat tahun dan kini memasuki periode kedua penggunaan asesor ISI-AP di SMKN 7 Batam.
Dalam UUK kali ini, proses asesmen dilakukan Asmaniar Susanti bersama Ketua DPC ISI-AP Batam Ir. Yuni Denia Wongso.
Kehadiran praktisi menjadi bagian penting dalam model yang sedang dibangun sekolah.
Asmaniar menilai siswa SMKN 7 Batam telah diarahkan untuk memahami bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik.

Sikap, kedisiplinan, kerapian, ketelitian, kecepatan, kemandirian hingga cara berkomunikasi menjadi bagian yang ikut diperhatikan dalam asesmen.
“Anak-anak tampil rapi seperti staf administrasi atau sekretaris. Mereka membawa laptop, alat tulis dan perlengkapan masing-masing. Suasana ujian juga sangat nyaman, rapi dan profesional,” katanya.
Dari Sekolah Menuju Dunia Kerja
Menurut Asmaniar, pengalaman praktisi sangat penting untuk melengkapi pendidikan akademik.
Sebab, siswa perlu mengetahui bagaimana standar kerja yang sebenarnya sebelum mereka terjun langsung ke dunia profesional.
Karena itu, asesmen tidak hanya melihat apakah siswa mampu menyelesaikan tugas, tetapi juga bagaimana mereka bekerja.
Postur saat bekerja, kebersihan, kerapian, kemandirian, kecepatan, ketepatan dan kedisiplinan menjadi bagian dari proses penilaian.

“Bekal akademik penting, tetapi pengalaman praktisi akan memberikan gambaran berbeda tentang dunia kerja,” ujarnya.
Ia berharap siswa tidak hanya menjadi tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mempunyai karakter kuat.
Mulai dari kerja keras, disiplin, daya juang, motivasi, inisiatif, inovasi, loyalitas hingga dedikasi.
“Kalau kita bisa, kamu juga pasti bisa. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Semua perlu perjuangan dan berproses,” katanya.
Role Model Pendidikan Vokasi
Apa yang dilakukan SMKN 7 Batam dinilai memiliki nilai lebih karena sekolah mencoba membangun sistem yang berkelanjutan.
UUK tidak ditempatkan sebagai kegiatan sesaat menjelang kelulusan. Kompetensi dibangun sejak kelas XI dan dilanjutkan secara bertahap sampai kelas XII.
Dengan menggandeng praktisi, sekolah juga membuka ruang bagi siswa untuk mendapatkan penilaian berdasarkan standar yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Inilah yang membuat SMKN 7 Batam dinilai memiliki peluang menjadi role model pendidikan vokasi.
Bukan sekadar sekolah yang mencetak siswa lulus ujian, tetapi sekolah yang berusaha memastikan lulusannya memiliki keterampilan, sikap profesional dan kesiapan memasuki dunia kerja.
Asmaniar sendiri bersama asesor ISI-AP telah terlibat dalam asesmen di sejumlah SMK di Batam dan SMKN 1 Tanjungpinang. Ke depan, pola serupa juga berpeluang dikembangkan di wilayah Tanjungbalai Karimun.
Langkah SMKN 7 Batam tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan vokasi membutuhkan kolaborasi antara sekolah dan dunia profesional.
Sekolah memberikan fondasi pendidikan, sementara praktisi membawa pengalaman lapangan agar kompetensi siswa semakin relevan.
Jika pola ini terus dikembangkan secara konsisten, SMKN 7 Batam bukan hanya mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga berpotensi menjadi contoh bagaimana sekolah kejuruan membangun jembatan nyata antara pendidikan dan dunia kerja.
Dari Batam, model pendidikan vokasi seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi SMK lainnya di Kepulauan Riau dan Indonesia.