Dari Latihan 15 Jam hingga Juara Dunia, Ahris Bawa Mental Juara ke Woodball Batam

Dari Latihan 15 Jam hingga Juara Dunia, Ahris Bawa Mental Juara ke Woodball Batam
Dari Latihan 15 Jam hingga Juara Dunia, Ahris Bawa Mental Juara ke Woodball Batam

GLOBALKEPRI.COM, BATAM - Tidak banyak atlet yang mampu mengubah olahraga yang awalnya hanya coba-coba menjadi jalan menuju panggung dunia.

Ahris Sumariyanto adalah salah satunya.

Berawal dari ajakan seorang teman kuliah pada 2008, pria asal Jepara, Jawa Tengah, itu justru menemukan jalan hidupnya di olahraga woodball. Dari lapangan latihan kampus hingga persaingan internasional, Ahris menempa dirinya dengan disiplin dan latihan keras.

Bahkan, dalam perjalanan kariernya, Ahris dikenal menjalani latihan hingga 15 jam sehari.

Kerja keras tersebut mengantarkannya menjadi salah satu atlet woodball terbaik Indonesia dan meraih gelar juara dunia.

Kini, pengalaman tersebut dibawa Ahris ke Batam.

Dalam coaching clinic Woodball Kota Batam, Ahris tidak hanya berbicara tentang teknik pukulan. Ia mencoba membangun sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting bagi seorang atlet, yakni mental bertanding dan keberanian untuk percaya pada kemampuan sendiri.

"Setelah saya memberikan coaching clinic ini, yang pasti mata mereka berbeda. Respons mereka sangat berbeda, kemauannya sangat berbeda," kata Ahris.

Ia melihat perubahan sikap para atlet setelah mengikuti materi yang diberikan.

Menurutnya, Batam memiliki sejumlah atlet dengan bakat yang cukup menjanjikan. Persoalannya, bakat tersebut membutuhkan dorongan agar bisa muncul dan berkembang secara maksimal.

"Banyak teman-teman yang memang berbakat, tetapi belum ada yang membangkitkan. Semoga dengan adanya saya bisa membangkitkan atau menumbuhkan kemampuan mereka yang belum keluar," ujarnya.

Bukan Sekadar Mengajarkan Pukulan

Bagi Ahris, menjadi atlet berprestasi tidak cukup hanya menguasai teknik.

Seorang atlet harus mampu mengendalikan pikirannya sendiri ketika berada di arena pertandingan.

Karena itu, ia melihat ada dua pekerjaan rumah yang perlu dibenahi Woodball Batam, yakni teknik dan pola pikir.

"Salah satunya teknik. Yang kedua, cara berpikir pada saat pertandingan. Itu berhubungan dengan psikologi," jelasnya.

Ahris menilai masih ada atlet yang keliru memahami peran dan tanggung jawab ketika tampil bersama pasangan.

Dalam permainan ganda, misalnya, perbedaan kemampuan tidak boleh berubah menjadi beban.

Atlet yang lebih berpengalaman tidak boleh merasa harus menggendong pasangannya. Sebaliknya, pasangan yang kemampuannya masih berkembang juga tidak boleh merasa menjadi beban.

"Ketika menjadi sebuah pasangan, tidak ada cerita siapa yang lebih jago. Tidak ada cerita saya yang menggendong kamu," tegasnya.

Menurut Ahris, pasangan harus saling memberikan rasa percaya.

Yang lebih kuat harus mampu membuat pasangannya nyaman. Sementara setiap pemain harus fokus terhadap tugas masing-masing.

"Yang lebih jago harus membuat pasangannya nyaman, tidak merasa terbebani dan tidak merasa harus sempurna dalam bermain," katanya.

Gerah Tak Jadi Alasan

Ada satu hal sederhana yang membuat Ahris semakin yakin dengan potensi atlet Batam.

Saat coaching clinic berlangsung, kondisi ruangan sempat terasa sangat gerah karena pendingin ruangan tidak berfungsi.

Namun, para atlet tetap bertahan mengikuti kegiatan tanpa menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk mengeluh.

Bagi Ahris, hal itu justru menunjukkan karakter positif.

"Saya sangat respect. Tadi sempat AC mati, tidak ada udara, benar-benar gerah. Tidak ada cerita mereka mengeluh," ujarnya.

Ia menilai para atlet mampu mengabaikan hal-hal negatif di sekeliling mereka dan tetap berkonsentrasi mengikuti materi.

"Itu yang membuat saya senang. Berarti mereka tidak peduli dan tidak memperhatikan hal negatif di sekitar. Mereka sangat positif," lanjutnya.

Sikap tersebut, kata Ahris, merupakan salah satu dasar penting dalam membangun mental juara.

Lawan Boleh Punya Nama Besar

Menatap Porprov Kepri VI 2026, Ahris ingin para atlet Batam tidak datang ke arena dengan rasa minder.

Menurutnya, nama besar seorang lawan tidak boleh mengalahkan mental seorang atlet bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Ia meminta atlet fokus kepada kemampuan sendiri.

"Jangan pernah peduli dengan orang yang sudah berprestasi lebih dulu. Fokus saja dengan dirimu dan yakin bahwa kalian bisa melawan mereka," pesannya.

Ahris bahkan memberikan suntikan kepercayaan diri yang sangat kuat kepada atlet Batam.

"Untuk Porprov, dengan nama-nama besar, saya mendampingi kalian. Mereka tidak saya dampingi. Buatlah mereka takut dengan kita, bukan kita yang takut dengan mereka," tegasnya.

Bagi Ahris, keberanian tersebut merupakan bagian dari modal untuk mengejar prestasi.

Latihan Harus Berubah Menjadi Kebutuhan

Ahris juga ingin mengubah cara atlet memandang latihan.

Menurutnya, latihan tidak boleh hanya menjadi rutinitas atau kewajiban. Atlet harus sampai pada titik di mana latihan menjadi kebutuhan.

"Kalau sudah sadar, mereka latihan tidak hanya karena latihan. Mereka latihan karena kebutuhan," katanya.

Ketika kesadaran itu tumbuh, seorang atlet akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk berlatih.

Bukan sekadar mengejar kemenangan, tetapi juga membawa nama daerah, membanggakan orang-orang di sekitarnya dan membuktikan kemampuan di level yang lebih tinggi.

"Kalau sudah sadar, prestasi akan mengikuti," ujarnya.

Perjalanan Ahris Jadi Bukti

Perjalanan Ahris sendiri menjadi contoh bagaimana proses panjang dapat mengubah seorang atlet.

Lahir di Desa Banyuputih, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, 4 September 1988, Ahris mengenal woodball ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Ia kemudian bergabung dengan UNNES Woodball Club.

Dari olahraga yang awalnya hanya dicoba karena ajakan teman, Ahris akhirnya memilih menekuninya secara serius.

Latihan demi latihan dijalani. Kegagalan dilewati. Tekanan pertandingan dihadapi.

Hingga akhirnya, namanya mencapai panggung dunia.

Kini, ia ingin pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda di Batam.

Pesan untuk Woodball Batam

Ahris juga mengapresiasi perjuangan pengurus Woodball Batam yang terus berupaya mengembangkan cabang olahraga tersebut.

Ia menyadari woodball belum memiliki popularitas seperti cabang olahraga lainnya. Karena itu, diperlukan pengorbanan dan konsistensi untuk membangun prestasi.

"Kesan saya, pengurus ini luar biasa. Semoga bertahan dengan segala gejolak yang pasti. Kita tahu woodball bukan olahraga terkenal. Jadi, rugi pasti, untung belum tentu. Saya minta pengurus berkorban dulu," katanya.

Ia berharap pengorbanan pengurus, pelatih dan atlet tersebut suatu saat berbuah prestasi.

Bagi Ahris, Batam tidak kekurangan potensi.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk percaya, kemauan untuk bekerja lebih keras dan mental untuk menghadapi siapa pun yang berdiri di hadapan mereka.

Sebab, perjalanan menuju podium tidak selalu dimulai dari atlet yang paling hebat.

Kadang, semuanya dimulai dari satu keyakinan sederhana:

Tidak perlu takut kepada siapa pun. Datang ke pertandingan untuk menunjukkan bahwa Batam juga layak diperhitungkan.

 

#Olahraga

Index

Berita Lainnya

Index