Api Kecil Literasi dari Pulau Penawar Rindu, PWI Batam Nyalakan Semangat Jurnalistik di SMPN 1 Batam

Api Kecil Literasi dari Pulau Penawar Rindu, PWI Batam Nyalakan Semangat Jurnalistik di SMPN 1 Batam
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kota Batam, M. A. Khafi Anshary,, memberikan kata sambutan

GLOBALKEPRI.COM, Batam – Dunia pendidikan Indonesia masih dihadapkan pada tantangan besar. Data literasi global yang menempatkan remaja Indonesia di peringkat bawah bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras bagi semua pihak. Dari kegelisahan itulah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam mengambil peran aktif, menyalakan api kecil literasi melalui Pelatihan Literasi dan Jurnalistik di sekolah-sekolah menengah pertama, termasuk hingga wilayah hinterland.

Melalui program tersebut, PWI Batam tak sekadar datang membawa materi, tetapi juga membawa “sekantong harapan”—harapan akan tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan pelajar. Sebagai organisasi profesi kewartawanan, PWI menyadari bahwa rendahnya literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab insan pers yang hidup dari kata dan fakta.

Mengetuk Pintu Sekolah, Menyalakan Pelita Literasi

Langkah PWI Batam menyusuri sekolah-sekolah tak berhenti di pusat kota. Hingga ke pulau-pulau, pintu pendidikan tetap diketuk. Salah satunya SMP Negeri 1 Batam, sekolah yang berdiri sejak 1956 dan menjadi saksi perjalanan panjang dunia pendidikan di wilayah hinterland.

Sekolah bercat biru itu menyimpan filosofi tersendiri. Kepala SMPN 1 Batam, Sri Rahayu, mengungkapkan warna biru dipilih bukan tanpa makna. “Biru adalah judul cerpen pertama saya,” ujarnya. Sebuah simbol bahwa literasi bukan sekadar jargon, melainkan telah hidup dalam keseharian pemimpinnya.

Sri Rahayu dikenal memimpin dengan keteladanan dan kebersamaan. Ia tak berdiri di menara gading, melainkan berjalan bersama para guru, menjadi pelita yang menerangi ruang belajar dengan kesederhanaan dan keikhlasan.

Antusiasme Siswa dalam Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

Pelatihan Literasi dan Jurnalistik PWI Batam dilaksanakan di ruang laboratorium SMPN 1 Batam. Bangku dan meja disusun membentuk huruf U, menciptakan suasana dialogis yang akrab. Sebanyak 36 siswa kelas VII dan VIII mengikuti pelatihan dengan antusias tinggi.

Mata para siswa tak lepas dari narasumber. Setiap materi disimak dengan penuh rasa ingin tahu, seolah pelatihan tersebut menjadi pintu pertama menuju masa depan yang lebih terang. Suasana itu menjadi penawar atas kegelisahan akan rendahnya minat baca di kalangan remaja.

Beberapa siswa bahkan dengan percaya diri mengaku sebagai pembaca aktif. Cahya, siswi kelas VIII, menyebut novel Bumi karya Tere Liye sebagai bacaan terakhirnya. Marsya mampu menyebutkan judul dan penulis buku yang baru diselesaikannya, sementara Chico Jericho mengaku gemar membaca buku-buku motivasi.

Mereka adalah bukti bahwa api literasi telah menyala—dan siap menular.

Literasi dari Hinterland untuk Masa Depan Bangsa

Para siswa SMPN 1 Batam menunjukkan bahwa wilayah hinterland bukan penghalang untuk melahirkan generasi literat. Dari sekolah yang jauh dari gemerlap pusat kota, tumbuh calon penjaga nalar, budi, dan karakter bangsa.

Peran guru menjadi fondasi utama. Dengan penampilan sederhana dan dedikasi tanpa pamrih, para pendidik di SMPN 1 Batam terus menjaga nyala ilmu pengetahuan. Mereka adalah pelita yang tetap bersinar, meski kerap bekerja dalam sunyi dan tanpa sorotan.

Melalui Pelatihan Literasi dan Jurnalistik ini, PWI Batam optimistis api literasi akan terus membesar. Dari bangku-bangku kelas di Pulau Penawar Rindu, semangat membaca dan menulis diyakini akan membawa perubahan nyata.

Momentum ini kian bermakna bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, menjadi penanda bahwa pers dan dunia pendidikan berjalan beriringan: menjaga nalar, merawat kata, dan menyiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter.

Ketua PWI Batam Sampaikan Apresiasi

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, menyampaikan salam hormat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kepala SMPN 1 Batam Sri Rahayu, beserta seluruh guru dan tenaga pendidik.

Menurut Khafi, kepemimpinan yang dijalankan dengan kebersamaan, kesederhanaan, dan keteladanan telah menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuh nalar dan karakter, bukan sekadar ruang belajar formal.

“Para guru di SMPN 1 Batam adalah pelita yang tak pernah lelah menjaga cahaya ilmu. Di tangan merekalah api literasi bukan hanya dinyalakan, tetapi dirawat agar terus hidup dan menular ke generasi berikutnya,” ujarnya.

#Pendidikan

Index

Berita Lainnya

Index