Ayam Broiler Bikin Ribut, Ayam Kampung Jadi Penutup: Kisah Serius yang Tidak Serius di Fasum Biru

Ayam Broiler Bikin Ribut, Ayam Kampung Jadi Penutup: Kisah Serius yang Tidak Serius di Fasum Biru
Dari Celoteh “Tepuk Bulu” ke Bara Persaudaraan, Aroma Jagung Bakar hingga Ayam Kampung

GLOBALKEPRI.COM, Batam, 5 April 2026 – Siapa sangka, sebuah foto ayam broiler di grup WhatsApp bisa berujung pada pesta rakyat skala kecil yang penuh tawa di Fasum Biru, Permata Bandara, Sabtu malam (5/4/2026). Bukan hoaks, bukan settingan—ini murni kekuatan “celoteh + lapar = kumpul”.

Semua bermula dari Sahandra yang tanpa dosa memposting ayam broiler dari pasar. Bukannya cuma dikomentari “mantap” atau “segar bang”, grup “Tepuk Bulu” justru langsung panas—bukan emosi, tapi bara api bakaran.

“Gas bakar-bakar!”
Dan anehnya… semua setuju.

Tak sampai hitungan jam, Fasum Biru berubah dari tempat biasa jadi markas besar BBQ dadakan. Reza tampil cepat dengan jagung bakar dan es sirup—yang penting ada manis-manis biar obrolan nggak pahit. Yang lain menyusul: kopi dari Herdi, minuman “rahasia hijau” dari Mas Heri (yang sampai sekarang belum jelas itu apa isinya), dan tentu saja nasi dari Bang Jek alias Fitra—yang bikin semua orang mendadak serius… karena lapar.

Aroma mulai mengambil alih suasana. Jagung bakar duluan unjuk gigi—wanginya manis, menggoda, bikin yang awalnya cuma niat nongkrong jadi niat makan. Tak lama, ayam broiler mulai berdesis di atas bara. Lemaknya menetes, apinya nyala-nyala manja, aromanya? Bikin iman goyah.

Tapi… seperti sinetron, konflik harus ada.

“Daging kurang!”

Tanpa pikir panjang, muncullah tokoh utama berikutnya: Maulana Ibrahim alias “Komandan”. Sekali dipanggil, langsung kirim dua ekor ayam kampung ukuran “niat makan besar”. Respect!

Eksekusi dimulai. Prosesnya? Jangan ditanya. Ini bukan MasterChef—ini “Master Barbar”. Ayam kampung dibakar buat bersihin bulu sampai warnanya dari putih jadi “arang premium”. Tapi justru di situlah seni rasa dimulai.

Setelah dibersihkan, ayam kembali dibakar. Aroma ayam kampung langsung naik level—lebih tajam, lebih menggoda, lebih “kampung banget”.

“Ayam kampung rasa original,” kata Sahandra bangga.
Mas Heri langsung nyamber, “Original? Ini mah ayam krispi !”

Tawa pecah. Yang lapar makin lapar, yang kenyang pura-pura lapar lagi.

Belum lengkap rasanya tanpa buah penutup. Semangka pun hadir—merah segar, manis, dan sukses jadi penyeimbang setelah serangan bertubi-tubi dari jagung bakar dan ayam panggang.

Di tengah euforia makan dan tawa, datanglah rombongan “kelas berat”—Mahapatih dan para Patih. Kehadiran mereka langsung mengubah sebagian suasana. Tongkrongan pun terbelah dua:

Satu kubu: ketawa, nostalgia, bahas masa lalu yang kadang dilebih-lebihkan.
Satu kubu lagi: serius, bahas politik, pemerintahan, sampai pemilihan RW—yang nadanya hampir kayak debat calon presiden.

Sementara itu, tim “Tepuk Bulu” tetap konsisten di jalurnya:
ketawa dulu, mikir belakangan.

Bagi mereka, ini bukan acara formal. Tidak ada MC, tidak ada rundown, tidak ada proposal.

Yang ada hanya:
bara api, ayam bakar broiler, ayam kampung, jagung bakar yang aromanya bikin nagih, semangka segar, dan segelas tawa yang tak pernah habis.

Dari sekadar postingan ayam di grup, malam itu berubah jadi bukti nyata:
kadang kebahagiaan itu simpel—asal ada teman, ada makanan, dan tidak ada yang hitung-hitungan.

Dan satu hal yang pasti…
Di Fasum Biru malam itu, yang dibakar bukan cuma ayam—
tapi juga stres, penat, dan sedikit… lemak kehidupan.

#Serba Serbi

Index

Berita Lainnya

Index