Terlalu Banyak Sengkuni dalam Pemilihan RW Permata Adayana

Terlalu Banyak Sengkuni dalam Pemilihan RW Permata Adayana
Ilustrasi

Cerpen (Sebuah kisah ala Mahabharata di tanah perumahan)

Di sebuah negeri kecil bernama Permata Adayana, berdirilah sebuah wilayah damai yang dikenal sebagai Kadipaten RW 13. Wilayah ini terbagi dalam tiga bagian—RT 1, RT 2, dan RT 3—yang selama ini hidup dalam harmoni. Tawa anak-anak, sapaan pagi, dan gotong royong menjadi nafas kehidupan sehari-hari.

Namun, seperti kisah besar di tanah Hastinapura, kedamaian tak pernah benar-benar abadi.
Ia akan diuji… ketika kekuasaan mulai diperebutkan.

Saat masa pemilihan pemimpin baru tiba, suasana berubah. Yang awalnya penuh harapan, perlahan menjadi medan penuh siasat. Perebutan ini tak lagi sekadar tentang kebijaksanaan, melainkan tentang siapa yang paling lihai memainkan bayang-bayang.

Muncullah para calon—para ksatria dari lingkungan sendiri.
Ada yang tegas seperti Bima, berani menghadapi persoalan parkir sembarangan.


Ada yang tenang seperti Yudhistira, menjanjikan kejujuran dan ketertiban.
Dan ada pula yang cerdas seperti Arjuna, merancang solusi bagi lampu jalan yang padam serta sistem keamanan dan transparansi keuangan.

Mereka datang membawa niat baik.
Namun niat baik… tidak selalu berjalan sendiri.

Di balik para ksatria itu, bayang-bayang mulai bergerak.

Ia tidak satu.
Ia tidak tampak jelas.
Namun suaranya terdengar… di mana-mana.

Sengkuni… telah menjelma menjadi banyak.

Mereka tidak berdiri di panggung.
Mereka tidak meminta dipilih.
Namun merekalah yang mengatur arah.

Di teras rumah …
di warung kopi..…
hingga balai pertemuan …

bisikan mereka mengalir seperti angin malam yang dingin dan menusuk.

“Jangan pilih dia… dulu pernah begitu…”
“Yang itu hanya terlihat baik… padahal…”

Kata-kata itu melesat seperti panah tak kasat mata—tidak terdengar keras, namun menghancurkan kepercayaan perlahan.

Di balai pertemuan, para calon berdiri gagah menyampaikan visi. Mereka berbicara tentang terang lampu yang kembali menyala, tentang keamanan yang kembali terjaga, dan tentang keuangan yang tak lagi diselimuti rahasia.

Namun di balik kerumunan warga…
para Sengkuni tersenyum.

Mereka tidak perlu berbicara keras.
Cukup satu pandangan, satu isyarat—
dan permainan terus berjalan.

Seorang tetua kampung, Ki Darmo , memandang semua itu dengan hati berat. Ia berkata lirih kepada para pemuda dari ketiga RT:

“Di Hastinapura, satu Sengkuni saja mampu memecah kerajaan. Di sini… jumlahnya terlalu banyak. Jika kalian lengah, yang hancur bukan hanya pemilihan… tapi persaudaraan kalian.”

Hari demi hari, suasana kian memanas.
Grup pesan berubah menjadi medan pertempuran.
Senyum berubah menjadi curiga.
Sapaan berubah menjadi bisikan di belakang.

Bahkan di antara RT 1, RT 2, dan RT 3…
mulai terasa jarak yang dulu tak pernah ada.

Permata Adayana pun perlahan berubah menjadi Kurukshetra kecil—
bukan dengan senjata,
melainkan dengan kata dan prasangka.

Namun di tengah kekacauan itu…
muncul satu suara yang jernih.

Seorang pemuda bernama Arga berdiri di malam sosialisasi terakhir. Wajahnya sederhana, namun suaranya tegas menembus keraguan.

“Kita ini bukan Kurawa atau Pandawa,” ujarnya lantang.
“Kita ini satu kampung. RT 1, RT 2, dan RT 3 adalah satu keluarga.”

Ia berhenti sejenak, menatap warga satu per satu.

“Kalau kita terus mendengar bisikan Sengkuni… maka siapa pun yang menang—
kita semua tetap kalah.”

Sunyi menyelimuti.

Untuk pertama kalinya, warga saling memandang—bukan dengan curiga, tetapi dengan kesadaran yang perlahan kembali.

Bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan…
melainkan ikatan sebagai tetangga.

Malam itu, angin Permata Bandara terasa berbeda.
Bisikan masih ada…
namun tak lagi menguasai hati.

Di dalam diri setiap warga, mulai tumbuh tekad—
untuk tidak mudah dipecah,
tidak mudah diadu,
dan tidak mudah percaya pada bayang-bayang.

Mereka sadar…

Bahwa kisah Mahabharata bukan untuk diulang,
melainkan untuk dipahami.

Bahwa satu Sengkuni saja sudah cukup berbahaya—
apalagi jika jumlahnya terlalu banyak.

Dan di ambang hari penentuan,
mereka memilih menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga dari kekuasaan:

persaudaraan di antara RT 1, RT 2, dan RT 3.

#Serba Serbi

Index

Berita Lainnya

Index